Asal-Usul MOS

Memasuki jenjang pendidikan yang baru, sudah menjadi suatu kebiasaan bagi setiap murid baru untuk mengikuti sebuah program pengenalan terhadap lingkungan sekolahnya. Kegiatan ini biasa dikenal dengan beberapa istilah, seperti: Masa Orientasi Siswa (MOS), Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Masa Orientasi Peserta Didik (MOPD) dan Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK). Untuk pelajar tingkat menengah mungkin sudah akrab yaa dengan istilah MOS

Kegiatan MOS Siswa-Siswa DEK
Peserta MOS SMP, SMA dan SMK DEK 2015

Banyak pendapat tentang kegiatan ini, baik dari sisi positif ataupun negatif. Beberapa pihak berpendapat bahwa di beberapa institusi kegiatan ini sudah melenceng dari keharusannya, di mana setiap anak baru diposisikan sebagai korban kekerasan senior, pihak lain justru berpendapat kegiatan ini dapat menjadi ajang yang bagus untuk menjalin keakraban antara setiap warga sekolah terutama senior dan junior. Tapi, sebelum kita memberi penilaian, ada baiknya kita mengetahui asal-usul MOS itu sendiri.

MOS sudah dikenal sejak tahun 1898 (udah tua dong ya? hehe) dan kegiatan ini dibawa oleh bangsa kolonial. Sekolah yang pertama kali mengadakan kegiatan ini adalah STOVIA atau Sekolah Pendidikan Dokter Hindia dan kemudian diteruskan pada masa Geneeskundinge Hooge School (GHS) atau Sekolah Tinggi Kedokteran. For Your Information (FYI) nih, sekolah-sekolah itu banyak melahirkan pahlawan-pahlawan bangsa, seperti: DR. Saharjo, DR. Cipto Mangunkusumo dan Dokter Sutomo, kalo suka sejarah pasti kenal mereka. Pada zaman itu, memang MOS memiliki visi yang keras, bahkan mereka menggunakan istilah “ontgroening” atau membuat tidak hijau lagi. Yang mana artinya kegiatan MOS ditujukan untuk mendewasakan si anak baru. Karena memusatkan pada kekerasan fisik dan mental, kegiatan ini sempat ditentang pada era 60-an.

Well, bagaimanapun MOS adalah ajang positif bagi peserta didik yang baru memasuki lingkungan pendidikan baru. Karena, dalam kegiatan MOS sekolah berharap untuk bisa mencapai tujuan pokoknya seperti: mengenalkan siswa dengan lingkungan pendidikan barunya, peraturan dan tata sertib, berbagai kegiatan ekstrakurikuler, menanamkan keberanian mental yang disesuaikan dengan tingkat pendidikan baru, gak mungkin kan anak SMP mental anak SD? Dan yang pasti, ada banyak sekali tujuan bermanfaat dari kegiatan yang akan menjadi salah satu kenangan dalam sejarah hidup kita. So, enjoy it!!

#mos #sekolah #smp #sma #smk #edukasi #pendidikan #asalusul #pelajar #school #student #yayasandek #smpdek #smadek #smkdek #orientasi #siswa #nobullying

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *